Pages

Home » , » Judi Dalam Lomba Berhadiah

Judi Dalam Lomba Berhadiah

Written By Sakif on Tuesday, 23 June 2020 | June 23, 2020

Lomba Berhadiah

Judi dalam pengertian Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti permainan memakai uang atau barang berharga sebagai taruhan. Dalam bahasa arab, judi dikenal dengan istilah maysir. Transaksi ini masuk daftar transaksi yang dilarang dalam urusan muamalah; hal-hal yang termasuk urusan kemasyarakatan.
Transaksi lain yang dilarang apa lagi? Kita bahas lain kali, ya. Insya Allah. Sekarang fokus tentang judi, atau maysir. Kata muamalah sudah terdaftar dalam KBBI ya, jadi tidak perlu dicetak miring.

Prinsip dasar dalam muamalah adalah: semuaya boleh dilakukan, kecuali ada dalil yang mengharamkan. Prinsip ini berbeda dengan kaidah dasar dalam hal ibadah: semua dilarang, kecuali yang diperintahkan. Mengenai prinsip dasar ini, bisa dipelajari dalam kaidah ushul/ ushul fiqih. Maka untuk hal muamalah, kita hanya perlu belajar tentang hal-hal yang dilarang, karena sisanya dibolehkan. Sedangkan dalam ibadah kita hanya perlu belajar apa saja yang diperintahkan, karena sisanya dilarang. Kalau belum percaya, bisa tanya Pak Ustadz. Hehe…

Urusan judi sebelumnya sering kita kenal dengan istilah togel, sabung ayam, poker, judi dalam club, dan sebagainya. Apapun yang berbentuk “taruhan” dengan mengorbankan uang atau barang berharga lainnya demi mendapat hadiah dari semua orang yang bertaruh, ini disebut judi. Bentuknya saat ini lebih beragam. Di internet secara tidak sengaja kadang kita tersambung dengan situs judi. Dengan pilihan nominal beragam. Mulai dari seribu rupiah, hingga jutaan rupiah. Hah, seribu? Iya. Saya tahu karena pernah tidak sengaja membaca iklan lewat di internet. Tertarik? Alhamdulillah enggak. Kok cuma seribu? Iya, “cuma” itu ketika dikalikan yang ikut misalnya sejuta orang, berapa? Satu milyar. Pinter. Begitulah kinerja judi. Iming-iming hadiah besar dari hal-hal kecil.

Nah, sekarang kembali fokus. Bagaimana mungkin ada judi dalam lomba berhadiah?

Begini, yang pertama perlu digarisbawahi adalah tidak semua lomba merupakan bentuk transaksi judi. Ada lomba yang murni lomba, buka kamuflase perjudian. Tapi tidak sedikit lomba yang menjadi “bentuk lain” dari judi. Disinilah kita perlu berhati-hati. Jangan karena tergiur hadiah yang aduhai, tidak lagi teliti tentang perkara ini. Padahal menikmati harta yang bersumber dari transaksi haram jauh lebih berbahaya dan bisa berdampak negatif pada banyak hal. Soal ini sudah sering dibahas oleh asatidz kita, ya. Bisa cek di berbagai forum kajian. Kalau mau dibahas di blog ini, bisa tinggalkan komentar. Semoga Allah mudahkan kita untuk memahami agama ini.

Jadi, ada lomba yang boleh diikuti? Tentu saja. Jika lombanya tidak ada hal yang menyebabkan atau mengandung transaksi haram, silakan diikuti. Kalau dapat hadiah, halal insya Allah. Jadi berkah buat pemberi maupun penerima hadiah.

Terus, lomba yang dibilang judi ini yang bagaimana?

Ehm, ciri yang paling jelas adalah jika hadiah lomba berasal dari iuran peserta. Ini termasuk judi. Maksudnya? Iya, ketika mendaftar lomba peserta diminta fee/uang pendaftaran/biaya keikutsertaan/sejenis itu, maka hati-hati. Karena ini bisa jadi indikasi judi. Kok bisa? Coba simak simulasi berikut:

Yang terjadi pada lomba berbayar adalah: uang peserta dikumpulkan oleh panitia, untuk diberikan kepada pemenang sebagai hadiah. Semakin banyak peserta yang diperkirakan ikut, semakin besar pula hadiahnya. Semakin besar hadiah yang “dipasang” oleh panitia, diharapkan akan semakin menarik minat peserta dan pendaftar. Maka jumlah nominal dalam hadiah tersebut adalah “target” perolehan iuran peserta. Bisa jadi targetnya lebih tinggi: untuk biaya operasional, fee panitian, dan sebagainya.

Jika benar demikian, apa bedanya dengan judi yang mengumpulkan uang taruhan untuk diberikan kepada pemenang? Jika dalam judi penentuan pemenang berdasarkan permainan, dalam lomba “bisa jadi” pemilihan pemenang berdasarkan penilaian juri. Itu bedanya? Mungkin benar. Tapi siapa yang menjamin bahwa penilaian juri tersebut berdasarkan standar penilaian lomba yang benar? Jika tidak ada jaminan ini, maka indikasi judi semakin kuat.

Kedua, jika kredibilitas penyelenggara perlu diragukan. Karena track record sebelumnya, apakah sudah pernah menyelenggarakan lomba serupa? Bagaimanakah sosok pemenang dalam lomba-lomba sebelumnya, apakah karya-karya mereka layak dianggap sebagai pemenang, atau fiktif datanya? Hal-hal semacam in iperlu diperhatikan oleh para calon peserta lomba. Jangan hanya karena berminat terhadap suatu lomba, tergiur hadiahnya, lupa memperhatikan hal-hal ganjil yang bisa merugikan di kemudian hari.

Ketiga, para ulama sepakat untuk memberi label haram terhadap hadiah yang diperoleh dari iuran peserta lomba. Jika hadiahnya haram, maka yang menjadi penyebab keharamannya juga menjadi haram. Dengan kata lain, lomba yang menjadi sarana terselenggranya pembagian hadiah haram tersebut menjadi haram pula. Secara otomatis, harta haram harus kita hindari. Karena jika tidak, harta haram tersebut akan menjadi penyebab keburukan yang terjadi dalam hidup kita. Tidak mau, kan hidup susah karena harta haram? Nah, mari hindari.

Bukan hanya peserta yang berpotensi menang harus menghidari ikut lomba berbayar seperti ini, tapi siapapun, jika indikasi “judi” dalam lomba ini kuat, maka “peserta receh” pun berperan sebagai “penyumbang tanpa pamrih” dalam sebuah perhelatan perjudian. Apakah yang demikian bisa lepas dari tanggung jawab dosa pelaku judi? Allahu a’lam.

Lalu mungkinkah lomba berbayar disebut halal? Mungkin saja. Jika ada lomba berbayar yang hadiahnya tidak berasal dari iuran peserta, maka ini tetap dibolehkan. Karena tidak ada alasan untuk menyebutnya haram. Misalnya, iuran peserta digunakan sebagai biaya operasional lomba, fee panitia, fee juri, menyiapkan perizinan, dan sebagainya. Sedangkan untuk hadiah, panitia bisa mendapatkannya dari sponsor, atau pihak ketiga yang bukan peserta atau panitia.

Demikian, semoga ulasan kecil ini dapat dipahami. Jika ada yang kurang jelas atau patut dikoreksi, silakan sampaikan di kolom komentar. Untuk pertanyaan lain seputar hijrah finansial juga boleh ditinggalkan dalam kolom komentar, insya Allah kita bahas dalam kesempatan selanjutnya. Referensi ulasan ini dapat dikroscek di berbagai kajian para asatidz. Di sini sengaja penulis tidak mencantumkan satupun dalil karena sudah banyak artikel lain yang membahas tentang keharaman judi. Biarlah ulasan singkat ini menjadi penjelas yang semoga menambah pemahaman pembaca.

Share this article :

10 comments:

  1. Paling gak suka sama lomba yang pesertanya kudu bayar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ga suka bayarnya atau ga suka hadiahnya om?

      Delete
  2. Dari dulu emang enggak suka lomba berbayar, apalagi setelah tahu ada kemungkinan judi. Keren nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mending ikut yang gratis tapi hadiahnya banyak. Wkwkk

      Delete
  3. Makasih sharingnya Mba Saki. Jadi kalo ada lomba berbayar peserta harus cari tahu dari mana sumber yang dijadikan hadiah, ya, noted. Tapi, kalo ada lomba yang berbayar langsung mundur teratur sih. Hehehehe.

    ReplyDelete
  4. Replies
    1. Iya dong.. itu juga dipasangin ehehehe

      Delete
  5. Oh jdi gini ya penjelasan nya. Dlu sempet bingung msalah ini. Terimakasih ka,
    Aku mau tanya hal ini sama gak dengan yg masalah kerja, kan suka ada tuh kalo mau masuk kerja itu harus bayar dlu. Nah itu gimana ka. Itu dibolehkan atau nngak ka?
    Btw, aku gol yg auto mundur klo lg dftar lomba eh hrus ada biaya nya wkk

    ReplyDelete
  6. When you know how to play and you have a place to play poker for free, you will definitely be able to enjoy the game without risk of being a problem gambler. situs bandarq

    ReplyDelete

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Hijrah Finansial - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger