Kebiasaan Utang yang Berbahaya

1 comment
Konten [Tampil]
kebiasaan utang berbahaya


Kondisi keuangan masyarakat terutama di pedesaan saat ini sungguh memprihatinkan. Tidak sedikit dari mereka yang terjerat utang harian berbunga-bunga. Kebiasaan utang ini awalnya hanya melibatkan nominal kecil. Kemudian berkembang dan berbunga sehingga menjadi berkali lipatnya.


Kondisi terlilit utang itu umumnya berangkat dari alasan kebutuhan, tapi tidak semua demikian. Ada juga orang utang karena hobi. Ya, memang ada orang-orang yang hobi utang. Katanya kalau nggak punya utang, hidupnya nggak semangat mencari penghasilan.

Utang dan Semangat Kerja

Apa iya, utang bikin semangat kerja? Bisa jadi. Meskipun mungkin tidak berlaku bagi semua orang. Ada orang-orang yang justru takut, menghindari utang bagaimanapun caranya. Pengen kulkas nggak punya uang? Nabung aja dulu. Nanti kalau sudah cukup uangnya, baru beli. Bukan kredit yang tentu harganya lebih mahal.

Ketika anak menangis ingin jajan tapi orang tua tak punya uang? Beri pengertian baik-baik pada anak. Mungkin awalnya mereka akan menangis, sedih, tapi dukungan orang tua bisa membuat anak tetap percaya diri menghadapi lingkunganya. Atau gantikan saja jajanan yang diinginkan dengan makanan buatan sendiri yang lebih sehat.

Butuh motor? Belilah motor second jika belum cukup membeli yang baru dan cash. Sungguh, menyesuaikan kebutuhan dengan kemampuan itu tidak memalukan. Justru jika menuruti ego dan membangun kebiasaan utang, bisa menjadi masalah di masa depan.

Utang Itu Boleh, Asal...

Dalam kehidupan pribadi di tengah masyarakat, tentu ada kondisi kita merasa kekurangan. Tidak selamanya pekerjaan berjalan dengan lancar, penghasilan mencukupi kebutuhan, dan sangat mungkin kondisi mendesak datang begitu saja.

Dalam kondisi mendesak, kita diperbolehkan mencari utangan. Bahkan Rasulullah saw pun pernah berutang kepada seorang yahudi dengan meninggalkan jaminan baju besinya. Kala para khalifah memimpin, baitul maal dibangun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, salah satunya juga menyediakan fasilitas utang.

Sebagai salah satu perkara muamalah, utang termasuk perkara mubah. Artinya boleh, selama tidak ada pihak yang merasa ditipu atau tidak ada transaksi haram yang menyertainya. Boleh utang, asal sesuai keperluan. Boleh utang, asal dikembalikan sesuai janji. Boleh utang, asal tahu bahwa yang memberi utang pun membutuhkan uang tersebut, jadi jangan terlalu lama menahannya.

Jika sudah ada rezeki untuk membayar utang, segerakan. Jangan menunda dengan alasan apapun. Jangan utang dengan niat untuk lari dari kewajiban membayarnya. Orang yang enggan membayar utang di dunia, akan membayarnya di akhirat dengan tabungan amal sholihnya. Jika stok amal sholihnya habis, sedangkan utangnya ada yang belum dibayar, maka dosa orang yang memberinya utang harus ditanggungnya.

Demikian penting masalah utang ini, sehingga umat Islam diminta untuk berhati-hati. Bahkan untuk utang yang mengandung riba sekalipun, tetap wajib dilunasi. Para ulama menyarankan dalam dzikir pagi dan petang, salah satu doa berlindung dari lilitan utang. Karena utang ketika tidak jelas ujung dan pangkalnya, bisa menjadi neraka dunia bagi manusia.

Penyebab Munculnya Bahaya Utang

Kebiasaan utang atau dalam peribahasa disebut gali lubang tutup lubang, dapat menimbulkan banyak bahaya. Hidup tidak tenang, merasa dikejar kewajiban, berapapun rezeki terasa kurang dan sempit, hingga masalah yang seolah tidak ada akhirnya. Apa yang umumnya menjadi penyebab kondisi seperti ini? Minimal ada 3 penyebab yang umum terjadi di masyarakat, yaitu:

1. Utang Saat Kebutuhan Tidak Mendesak

Contohnya untuk kebutuhan yang masih bisa ditunda, sebaiknya tidak perlu utang demi memenuhinya. Tunggu sampai benar-benar butuh. Jika pada saat itu tidak mampu juga, utang bisa dilakukan sekadar memenuhi kebutuhan. Misal butuh 100 ribu rupiah untuk biaya pendidikan anak, hanya ada 50 ribu rupiah saat itu, maka utang cukup 50 ribu saja.

Lain halnya jika ada uang 50 ribu sedangkan butuh 100 ribu, kemudian mencari utang sebesar 100 ribu. Maka jelas ada lebihan 50 ribu dari kebutuhan tersebut, yang bisa dialihkan untuk kebutuhan lain. Nah, kebiasaan seperti ini membuat utang lebih banyak dari kebutuhan, sehingga ketika mengembalikan mengalami kesulitan.

2. Utang Tanpa Memikirkan Bagaimana Membayarnya

Misal saat ini butuh 100 ribu rupiah untuk menyambung hidup, membeli beras, minyak, lauk, untuk makan. Tanpa memikirkan bagaimana megembalikan utang tersebut, maka setelah 100 ribu rupiah itu habis akan timbul keinginan mencari utang lagi. Mungkin lebih besar karena sebagian untuk membayar utang, sebagian untuk makan lagi. Pola ini akan terus berlanjut. Sampai kapan? Sampai tidak mampu atau tidak ada yang memberi utang.

Lain cerita jika membutuhkan 100 ribu rupiah untuk makan dan mendapat pinjaman sebesar 100 ribu rupiah. Karena berpikir bagaimana mengembalikannya, uang utangan tersebut tidak semuanya digunakan untuk makan. Sebagian dibelanjakannya untuk modal jualan, kemudian uang itu berputar dan mendapat keuntungan dari penjualan. Seiring waktu, utang dapat dibayar dan kebutuhan bisa dipenuhi.

Maka jika ada kebutuhan mendesak dan mengharuskan kita mencari utangan, rencanakan baik-baik  bagaimana membayarnya nanti. Jika tidak ada penghasilan atau pekerjaan yang bisa diandalkan, gunakan sebagian utangan itu untuk membuka usaha. Sambil terus berdoa supaya rezeki didatangkanNya dari arah yang tidak disangka untuk bisa membayar utang.

3. Utang Untuk Memenuhi Gaya Hidup

Utang untuk memenuhi keinginan mengikuti gaya hidup yang sedang tren, diimpikan, tidak akan pernah memberikan kepuasan. Seorang yang menginginkan pakaian model terbaru misalnya, kemudian mencari utangan dan membelinya, akan segera kecewa karena tak lama kemudian model terbaru muncul lagi dan lebih menarik hati.

Gaya hidup tidak akan pernah habis dituruti. Bahkan jika manusia diberi emas sebesar gunung uhud, maka ia pasti akan memintanya lagi yang semisal itu. Sifat serakah manusia tidak akan pernah membuatnya merasa puas, justru meningkatkan hasrat dan kebiasaan utang yang akhirnya menghancurkan. Jika dalam kondiri terpaksa, sebisa mungkin carilah utang yang halal dan segerakan untuk melunasinya.

Related Posts

1 comment

  1. Penjelasan yang sangat bermanfaat. Hal yang paling dijauhi, berhutang.

    ReplyDelete

Post a Comment